By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
KLIK7TVKLIK7TVKLIK7TV
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
    • TNI AD
    • TNI AL
    • TNI AU
Reading: Juara
Share
Font ResizerAa
KLIK7TVKLIK7TV
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
    • TNI AD
    • TNI AL
    • TNI AU
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
KLIK7TV > Blog > Pendidikan > Juara
Pendidikan

Juara

admin
Last updated: March 8, 2025 3:57 am
admin
1 year ago
Share
SHARE

MEDAN, KLIK7TV.CO.ID – “Anak-anak sekalian. Hari ini adalah hari yang luar biasa bagi kita semua. Pertama kali dalam dua puluh dua tahun ibu mengajar, baru kali ini kejadian. Ini pertama kali juga dalam sejarah sejak sekolah ini berdiri. Tiga orang juara satu, satu orang juara dua dan dua orang juara tiga. Tepuk tangan untuk kita semua!”, pinta guru tercinta kami Bu Noviar.

Bunyi tepuk tangan keras bergema riuh memecah suasana tegang saat pengumuman pembagian rapor kelas dua SMP Caturwulan dua. Sekejap kemudian mendengung suara bisik-bisik tak jelas.

Suasana kembali tegang, menunggu pengumuman juara kelas.

Bu Noviar adalah guru fisika yang pintar sekaligus menjadi Wali Kelas kami, Kelas Dua Dua.

Beliau termasuk guru disenangi sekaligus ditakuti. Karena kedekatannya dengan siswa beliau menjadi tempat curhatan dan konsultasi siswa bermasalah. Dekat seperti orang tua yang mengayomi dan ngemong bagi banyak anak.

Di sisi lain saat masuk mata pelajarannya jika ada anak yang tidak bawa alat sesuai perintah, maka siap-siap menerima pukulan rol kayu panjang di telapak tangan.

“Plak-plak”, bunyi kayu nyaring begitu menyentuh telapak tangan. Kadang tangan reflek ditarik, pukulan diulang. Konsekuensi ini adalah buah dari perjanjian diawal tahun kelas dua. Siapa yang tidak membawa alat dan buku saat pelajaran, maka akan dapat hukuman.

Desas-desus tentang ibu ini sudah kudengar sejak kelas satu dan rezekinya kami semua dipertemukan dengan beliau.

Tapi anehnya, tidak ada pula siswa yang bolos jika lupa membawa alat. Bisa jadi itu karena cara mengajarnya yang asik. Konsep fisika yang rumit diurai beliau dengan cara yang sederhana sehingga kami mudah mengerti.

“Nilai kalian sama semua. Sudah ibu coba lakukan beberapa postes, tetap saja sama. Beberapa guru lain juga ibu mintai tolong untuk menguji ulang”, jelas bu guru di mejanya di depan kelas.

Kelas berukuran empat kali enam dengan dinding tebal kokoh khas bangunan Belanda kembali hening. Dua puluh empat siswa tidak mengeluarkan suara. Semua diam.

Semua menduga-duga dan merasa-rasa.

“Sebenarnya ibu tidak mau menyampaikan ini. Biarlah kalian tahu sendiri. Tapi bagi ibu, ini terlalu spesial. Terima kasih ya anak-anak ibu yang giat belajar. Terima kasih atas semangat kompetisi yang berkembang selama ini. Ibu bangga”, ucap ibu berpidato. Namun nama para juara belum juga disebutkan.

Sebagian siswa sudah gelisah. Ada yang menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga kursi turut goyang. Beberapa memainkan pulpen menimbulkan suara di tengah kesunyian. Ada yang mulai menyeka keringat di tengkuk dengan sapu tangan. Ada yang menundukkan kepala sampai jauh kebawah meja.

Aku merasakan ketegangan ini. Berharap salah satu diantara yang tiga, rasanya tidak mungkin. Tapi jantung tetap berdebar tidak bisa dicegah.

“Jadi ibu keras sama kalian itu bukan tanpa sebab. Ibu ingin murid ibu itu sudah menyiapkan diri untuk sekolah. Tidak ada yang buru-buru. Semua terencana dengan baik. Nah, sekarang lihatlah ada hasilnyakan. Kelas kita jadi kompetitif”, terang Bu Noviar dengan bangga.

“Tapi pukulan rol ibu sakit sekali. Merah-merah tangan kami”, celetuk kawan di bangku belakang memancing tawa kami semua.

Bu Noviar ikut tersenyum.

“Salah sendiri gak patuhi aturan. Ya, kenaklah!”, balas Bu Noviar.

“Bu, ayoklah. Gak jadi-jadi ibu umumkan”, teriak siswa lain di bagian tengah sebelah kiri. Semua mata menengok kearahnya.

“Berani benar. Minta pukul nih anak”, gumamku dalam hati.

Karena suasana hati bu wali kelas kami sedang bahagia, pukulan rol kayu tidak terjadi. Dimaafkan atas kelancangannya.

“Baiklah, kalau begitu. Dengar ya. Juara tiga adalah Andi dan Irza. Juara dua Azwar dan Juara I adalah….. “, ucap Bu Noviar mendramatisir keadaan.

“Juara 1 adalah Eka, Salman dan Dinil”, Pungkas Bu Noviar dengan bangga. Tepuk tangan bergemuruh. Orang yang namanya disebut tersenyum sumringah.

Namun tidak ada yang berdiri dan maju ke depan karena tidak diminta untuk itu dan juga tidak ada hadiah diberikan.

Hari itu tercatat sebagai sejarah baru bagi sekolah kami, SMP Negeri Simpang Candung.
——-+-

Tulisan ini mengenang sahabat kami Dinil Arifah yang meninggal setelah berjuang melawan sakitnya, Selasa, 25 Februari 2025 pukul 03.15 di RS. Ahmad Muhtar Bukittinggi.

Penulis : Salman

You Might Also Like

Menciptakan Generasi Hebat Yang Berkarakter
Kepala Sekolah SMPN 15 Medan Bacakan Sambutan Menteri Pendidikan Kebudayaan Pada Peringatan Hut RI Ke-80
O2SN Tingkat Kota Jakarta Utara wilayah 2 Diikuti 230 Peserta
Sebanyak 36 Siswa SMKN 14 Medan Lulus SNBP 2025
Pesantren Kilat Ramadahan SMPN 6 Medan,Tingkatkan Iman dan Taqwa Serta Menanamkan Peserta Didik Untuk Gemar Berbagi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Print
Previous Article 100 Orang Siswa Didikan Satdik 4 Mando Dilangik Dan Disumbah Menjadi Prajurit TNI AL
Next Article 3 Hari Pelaksanaan PKR di SMAN 1 Tanjung Morawa, Kegiatan Bersama Menjunjung Tinggi Toleransi
about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Find Us on Socials

© KLIK7TV
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?