Home Politik Tangisan Palsu Penguasa

Tangisan Palsu Penguasa

Share
Share

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Belakangan ini, panggung politik kita sesak oleh air mata. Kita melihat para penguasa bersedu-sedan di depan kamera, meratapi nasib rakyat kecil, atau tersedu saat berjanji akan membawa keadilan. Publik terenyuh. Sebagian besar dari kita buru-buru menyeka air mata sendiri, hanyut dalam drama yang mengharu biru.

Namun, sebagai manusia yang dikaruniai ’aql (akal budi), kita patut merenung: apakah air mata itu lahir dari mata air ketulusan, atau sekadar tetesan dari tangki kosmetik politik?

Dalam psikologi komunikasi, kita mengenal konsep manipulasi impresi. Penguasa sangat paham bahwa emosi adalah jalan tol menuju kepatuhan massa. Ketika argumen rasional mereka kandas oleh kebijakan yang mencekik rakyat, ketika angka kemiskinan tak bisa dibohongi oleh statistik, maka emosilah yang dimainkan. Air mata ditumpahkan untuk melunakkan hati publik yang mulai mengeras oleh kekecewaan.

Secara sosiologis, ini adalah bentuk simulasi—seperti yang sering diingatkan oleh Jean Baudrillard. Penguasa menciptakan realitas semu. Mereka menangis bukan karena merasakan penderitaan rakyat (empati), melainkan karena mereka ingin terlihat menderita bersama rakyat (citra). Ini adalah air mata teatrikal. Sebuah pertunjukan orkestrasi emosi di mana rakyat bertindak sebagai penonton yang membayar tiketnya dengan hak-hak mereka yang dirampas.

Mari kita tengok sejarah spiritual kita. Islam sangat memuliakan air mata, tetapi hanya air mata yang lahir dari rasa takut kepada Allah dan kepedulian yang tulus pada sesama. Nabi SAW menangis ketika mendengar rintihan kaum dhuafa, dan air mata beliau segera menjelma menjadi tindakan nyata: santunan, perlindungan, dan penegakan keadilan. Beliau tidak menangis di podium untuk mencari simpati, lalu setelah itu menandatangani kebijakan yang menggusur tanah rakyat.

Tangisan yang sejati selalu melahirkan transformasi, sedangkan tangisan yang palsu hanya melahirkan transaksi—transaksi suara, transaksi citra, dan transaksi kekuasaan.

Di era media sosial ini, mari kita menjadi publik yang cerdas (ulul albab). Jangan mudah terhanyut oleh melodi kesedihan yang dimainkan di atas panggung kekuasaan. Ingatlah prinsip dasar dalam melihat pemimpin: jangan lihat air mata yang keluar dari pelupuk mata mereka, tetapi lihatlah keadilan yang keluar dari kebijakan mereka.

Ketika penguasa menangis, periksalah kantong kita masing-masing—apakah subsidi kita sedang dicabut, ataukah hak bicara kita sedang dibungkam? Karena sering kali, di balik setiap tetes air mata palsu seorang penguasa, ada ribuan air mata nyata rakyat yang terabaikan. (Adi Bunardi, M.Fil.I)

Penulis adalah Dosen dan Aktivis 98

Share
Related Articles

Demokrasi, Partai Politik, dan Hantu Oligarki

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Demokrasi memang bising, penuh warna, dan ramai oleh pedagang...

Presiden Gagap Politik

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Kekuasaan sering kali datang tanpa naskah seperti dalam teater,...

GARDA Prabowo Dukung Pernyataan Komisi IX DPR-RI Irma Suryani Tentang Upaya Pencegahan Pemberangkatan PMI Non Prosedural

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Ketua Dewan Koordinasi Nasional Garda Prabowo Departemen Hukum dan...

Acara NgoPi, Aktivis 98 Adi Bunardi Bicara Jejak Kolonialisme dan Demokrasi Indonesia

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Kolonialisme sudah pergi dari Indonesia tapi jejaknya masih ada...