Home Ekonomi Prof. Ricky Avenzora : Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Indonesia

Prof. Ricky Avenzora : Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Indonesia

Share
Share

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati dan budaya terbesar di dunia. Dari ratusan gunung berapi, garis pantai sepanjang puluhan ribu kilometer, hingga satwa endemik seperti gajah, harimau, dan badak—semuanya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekowisata.

Namun, potensi ini dinilai belum tergarap optimal. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Ricky Avenzora, menyebut pariwisata Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

“Kita punya kekayaan luar biasa, tetapi yang muncul justru konflik manusia dengan satwa liar, kerusakan alam, dan distribusi manfaat pariwisata yang tidak adil. Masyarakat kecil hanya mendapat ‘recehan’,” ungkap Prof. Ricky Avenzora dalam Konferensi Pers Pra-Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, baru baru ini.

Ekowisata sebagai Solusi

Dalam paparannya berjudul Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia, Prof. Ricky menekankan, bahwa rekreasi dan pariwisata tidak boleh hanya dimaknai sebagai kebebasan bepergian. “Harus diubah menjadi perjalanan berkesadaran yang memberi manfaat bagi semesta. Itulah ekowisata,” tegas Prof. Ricky Avenzora.

Ia juga menyoroti potensi budaya Nusantara yang belum digarap serius. Dengan lebih dari 1.300 etnis, ratusan seni bela diri, permainan tradisional, hingga ribuan folklor, Indonesia seharusnya mampu mengembangkan industri kreatif kelas dunia.

Tiga Masalah Utama

Menurut Prof. Ricky, ada tiga persoalan besar yang menghambat pariwisata Indonesia:

  1. Devisa dan jumlah wisatawan masih kalah dari negara tetangga.
  2. Potensi alam dan budaya banyak yang mengalami kerusakan.
  3. Manfaat pariwisata lebih banyak dinikmati kelompok menengah-atas, sementara masyarakat kecil tertinggal.

Dukungan pada Swasta

Prof. Ricky menilai, pengembangan pariwisata harus bergeser dari sekadar membangun fasilitas untuk turis menuju pembangunan yang berpihak pada masyarakat lokal. Ia juga menekankan pentingnya peran sektor swasta sebagai inkubator bisnis komunal.

Salah satu contoh yang ia sebut adalah EIGER Adventure Land. “Indonesia hanya punya sedikit pengusaha wisata menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata. EIGER adalah salah satunya, dan semestinya didukung penuh pemerintah,” papar Prof. Ricky Avenzora.

Sebaliknya, ia mengkritik praktik penyegelan dan pencabutan izin usaha wisata di sejumlah daerah yang dinilai merugikan banyak pihak. “Pola hentikan dan bongkar adalah bentuk arogansi jabatan yang secara hukum tidak dibenarkan, serta secara sosial-ekonomi sangat merugikan masyarakat luas dan juga negara,” ujarnya.

Perubahan Paradigma
Sebagai jalan keluar

Prof. Ricky menawarkan beberapa langkah: academic reengineering di bidang pariwisata, pergeseran paradigma pembangunan, serta dukungan regulasi yang ramah bagi masyarakat dan dunia usaha.

“Ekowisata bukan hanya tentang menjaga alam, tapi juga cara untuk menemukan jati diri, melestarikan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya. (Red)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Ketum PWI Pusat: Modal Ventura Harus Diperkuat untuk Dorong UMKM dan Ekonomi Berkelanjutan

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID — Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir...

Perayaan Mid-Autumn Festival 2026, The Hermitage a Tribute Portfolio Hotel, Jakarta Persembahkan “Harvest of Harmony”

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Menyambut perayaan Mid-Autumn Festival 2026, The Hermitage, a Tribute...

Hut RI 2026, The Hermitage, a Tribute Portfolio Hotel, Jakarta Hadirkan “Rijsttafel: Cerita Rasa Nusantara”

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Dalam semangat merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, The Hermitage, a...

Rayakan bulan Agustus dengan Staycation Eksklusif di ibis Styles Jakarta Sunter

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Menyambut bulan Agustus yang penuh dengan semangat liburan dan...