By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
KLIK7TVKLIK7TVKLIK7TV
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
    • TNI AD
    • TNI AL
    • TNI AU
Reading: Jawa Tengah Jadi Basis Pekerja Migran Kompeten, KemenP2MI Petakan Penempatan hingga Amerika dan Eropa
Share
Font ResizerAa
KLIK7TVKLIK7TV
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
  • Home
  • Headnews
  • Daerah
  • POLRI
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Megapolitan
  • TNI
    • TNI AD
    • TNI AL
    • TNI AU
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
KLIK7TV > Blog > Ekonomi > Jawa Tengah Jadi Basis Pekerja Migran Kompeten, KemenP2MI Petakan Penempatan hingga Amerika dan Eropa
Ekonomi

Jawa Tengah Jadi Basis Pekerja Migran Kompeten, KemenP2MI Petakan Penempatan hingga Amerika dan Eropa

Arman Naker
Last updated: December 30, 2025 6:57 am
Arman Naker
6 months ago
Share
SHARE

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) memetakan Propinsi Jawa Tengah (Jateng) sebagai salah satu provinsi dengan basis Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kuat dan berbasis kompetensi. Pemetaan ini dilakukan seiring penguatan kebijakan penempatan PMI ke berbagai negara tujuan, termasuk Amerika dan Eropa.

Direktur Jenderal (Dirjen) Penempatan KemenP2MI Ahnas mengatakan, PMI asal Jawa Tengah menunjukkan karakter kelompok yang solid, terorganisasi, dan relatif bertahan di negara tujuan.

“PMI asal Jawa Tengah mudah dikenali dan memiliki pola kelompok yang kuat, termasuk di Amerika dan Eropa,” ungkap Ahnas saat audiensi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah di Kantor BP3MI Jawa Tengah, Senin (29/12/2025).

Menurut Ahnas, karakter tersebut menjadi modal strategis bagi pemerintah dalam memperkuat kebijakan penempatan PMI berbasis pendidikan dan kompetensi. Saat ini, KemenP2MI mengarahkan penempatan PMI, khususnya pada sektor formal, dengan mengacu pada standar kompetensi kerja.

“Penempatan ke berbagai negara, baik Amerika, Afrika, Eropa, maupun sektor domestik, kini dirancang berbasis kompetensi,” terang Ahnas.

Menurut Ahnas, sektor pekerja rumah tangga (domestic worker) juga mulai diwajibkan memenuhi standar kompetensi tertentu. Meski masih terdapat beberapa sektor yang menjadi pengecualian, secara umum kebijakan penempatan PMI telah mengarah pada pemenuhan standar kerja yang terukur.

Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, KemenP2MI memperkuat koordinasi dengan Bursa Kerja Khusus (BKK) serta memperluas sosialisasi penempatan PMI berbasis kompetensi ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Tengah. Namun demikian, Ahnas menegaskan, kebijakan ini tidak menyasar siswa yang masih berstatus pelajar, melainkan lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan dan mengikuti pelatihan, penguatan bahasa, serta peningkatan keterampilan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri KemenP2MI Dwi Setiawan Susanto mengatakan, minat masyarakat untuk bekerja ke luar negeri saat ini masih tinggi dengan pilihan sektor yang semakin beragam.

“Peminat kerja ke luar negeri datang dari berbagai sektor, mulai dari hospitality, caregiver, hingga pengemudi truk,” ungkap Dwi.

Ia menyebut Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Turki masih menjadi negara tujuan utama. Ke depan, KemenP2MI membuka peluang diversifikasi negara tujuan seiring pengembangan kerja sama dan skema penempatan.

Dari sisi daerah, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah Ahmad Aziz menekankan pentingnya penyiapan calon PMI secara terstruktur dan berkelanjutan.

Ia menilai penguatan ekosistem pendidikan, pemetaan minat, serta pemahaman kebutuhan pasar kerja luar negeri menjadi prasyarat utama, khususnya untuk negara tujuan seperti Jepang dan Jerman.

“Penyiapan ke Jepang rata-rata membutuhkan waktu sekitar lima bulan, sementara ke Jerman bisa mencapai sembilan bulan dan memerlukan pelatihan lanjutan,” kata Aziz.

Menurutnya, masih terdapat kesenjangan antara kurikulum pendidikan formal dan kurikulum lembaga pelatihan kerja. Karena itu, diperlukan sinkronisasi kebijakan lintas kementerian di tingkat nasional agar penyiapan pekerja migran dapat berjalan lebih efektif. (ARMAN R)

You Might Also Like

Pertemuan Menteri Mukhtarudin dan Kepala Bappenas : Satukan Visi Lindungi Pekerja Migran Indonesia
Ketua Panja DPR, Revisi UU Terkait KPPU Tahun Ini Di Wujudkan
Kemnaker & Kemenekraf Perkuat Sinergi Ciptakan Lapangan Kerja di Sektor Ekonomi Kreatif
Tampil di Investor Daily Summit, Ketum GP Ansor Paparkan Skema Bisnis Berbasis Pedesaan
Cetak Wirausaha yang Andal, Pemuda Pancasila Gelar Diklat Prospek Bisnis Kopi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Print
Previous Article Reuni Akbar dan Natal Angkatan 95 Meriah Sekaligus Pemberian Talih Kasih Terdampak Bencana Alam
Next Article Sudin LH Jakarta Utara Perkuat Pilah Pilih Sampah Pada Tahun 2026
about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Find Us on Socials

© KLIK7TV
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?