Kolonel Gerardus Maliti Pimpin Ikalsabda Jabodetabek: Karena Panggilan Jiwa

CIBUBUR, KLIK7TV.CO.ID — Sabtu, 6 Juni 2026, Gedung GBI Patoembak di Cibubur seolah berubah menjadi rumah besar bagi masyarakat Sumba Barat Daya (SBD) yang bermukim di Jabodetabek. Sejak pagi, ratusan warga berdatangan. Mereka hadir bukan sekadar menghadiri pelantikan organisasi, tetapi juga merayakan semangat persaudaraan yang telah lama mengikat mereka jauh dari tanah kelahiran.

Nuansa adat begitu kental terasa saat Dewan Pimpinan Pusat Insan Keluarga Besar Sumba (IKBS) tiba dengan prosesi tradisional membawa seekor babi yang kemudian dikorbankan sebagai bagian dari rangkaian pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Asal Sumba Barat Daya (Ikalsabda). Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus peneguhan komitmen kebersamaan.

Pada sore hari, sekitar 400 peserta memadati gedung untuk menyaksikan pelantikan Kolonel Gerardus Maliti, S.Sos., M.Si., sebagai Ketua Ikalsabda Jabodetabek periode 2026–2031. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum IKBS, Hermanus Malo Dona. Setelah resmi dikukuhkan, Gerardus kemudian melantik jajaran pengurus yang akan mendampinginya selama masa kepemimpinan.

Namun, bagi banyak orang yang hadir, acara tersebut lebih dari sekadar seremoni pergantian kepemimpinan. Di hadapan para tokoh masyarakat, sesepuh, pemuda, dan keluarga besar Sumba Barat Daya, Gerardus menyampaikan refleksi mendalam tentang makna kepemimpinan.

“Saya menerima amanah ini karena panggilan jiwa,” katanya mengawali sambutan.

Dari titik itulah ia mengajak hadirin memandang kepemimpinan bukan sebagai kehormatan, melainkan sebagai kegelisahan yang harus terus hidup dalam diri seorang pemimpin.

Pemimpin Harus Gelisah

Menurut Gerardus, seorang pemimpin harus gelisah ketika melihat rakyatnya kelaparan. Ia harus gelisah melihat kemiskinan yang masih membelenggu, anak-anak yang putus sekolah, rumah-rumah yang belum layak huni, serta ketertinggalan yang terus berlangsung.

“Tetapi kegelisahan saja tidak cukup. Kegelisahan harus berubah menjadi gerakan,” tegasnya.

Baginya, seorang pemimpin wajib mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki—pengetahuan, jaringan, relasi, bahkan jabatan yang dipercayakan kepadanya—untuk satu tujuan, yakni mengangkat martabat masyarakat yang dipimpinnya.

Di bawah kepemimpinannya, Ikalsabda tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul atau ruang bernostalgia tentang kampung halaman. Organisasi ini harus menjadi wadah persatuan masyarakat Sumba Barat Daya, tempat lahirnya gagasan, kader, jejaring, serta pengabdian bagi kemajuan daerah.

Gerardus juga menegaskan pentingnya hubungan erat antara Ikalsabda dan IKBS.

“Masa depan Sumba tidak bisa dibangun oleh satu kelompok saja. Tidak bisa dibangun oleh satu kabupaten saja. Kita boleh berasal dari SBD, tetapi kita adalah orang Sumba,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat di luar Pulau Sumba tidak melihat empat kabupaten yang ada di pulau tersebut. Mereka hanya mengenal satu identitas besar: Sumba.

Karena itu, ia mendorong lahirnya lebih banyak kader unggul dari rahim Ikalsabda, bukan hanya sebagai pemimpin di tingkat desa atau kabupaten, tetapi juga sebagai birokrat, akademisi, pengusaha, profesional, dan politisi berintegritas yang mampu berkiprah di tingkat nasional.

Lebih jauh, Gerardus membayangkan suatu masa ketika pemimpin-pemimpin Sumba Barat Daya dapat memainkan peran sebagai penghubung informal yang mempererat komunikasi dan kolaborasi antarkabupaten di Pulau Sumba demi kepentingan bersama.

Untuk menggambarkan gagasan tersebut, ia mengingatkan hadirin pada sosok almarhum Umbu Mehang Kunda yang pernah dihormati sebagai figur pemersatu para bupati di Sumba.

“Bukan karena kekuasaan formal, tetapi karena ketokohan, kebijaksanaan, dan kemampuannya merangkul semua pihak,” katanya.

Umbu dan Rato Adalah Panggilan untuk Melayani

Dalam bagian yang paling menyentuh dari pidatonya, Gerardus mengajak masyarakat memaknai kembali gelar-gelar tradisional yang selama ini melekat dalam budaya Sumba, seperti Umbu dan Rato.

Menurutnya, banyak orang memahami gelar tersebut sebagai simbol darah bangsawan. Padahal, darah bukanlah privilese atau hak istimewa.

“Darah adalah catatan utang. Ia adalah tanggung jawab. Ia adalah panggilan untuk melayani,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu seorang Umbu atau Rato dihormati bukan karena berada pada posisi tertinggi dalam silsilah keluarga, melainkan karena keberaniannya berdiri paling depan ketika badai datang dan memilih berada paling belakang ketika makanan dibagikan.

Karena itu, makna Umbu pada masa kini, menurutnya, harus diberikan kepada siapa saja yang bersedia mengabdikan diri bagi sesama.

“Jika ada anak muda yang memperjuangkan pendidikan bagi sesamanya, dia adalah Umbu. Jika ada ibu yang mengorbankan hidupnya demi keluarga dan masyarakat, dia adalah Umbu. Jika ada pemimpin yang bekerja diam-diam demi kesejahteraan rakyat, dia adalah Umbu. Jika ada warga yang menggunakan ilmu, tenaga, dan rezekinya untuk mengangkat martabat sesama, dia adalah Umbu,” tuturnya.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan ibu kota, pesan yang disampaikan Gerardus sore itu terasa sederhana namun mendalam: kepemimpinan bukan tentang kedudukan, melainkan tentang kegelisahan yang diterjemahkan menjadi tindakan. Sebab, hanya melalui tindakan nyata, sebuah amanah dapat memberi arti bagi masyarakat yang dilayani.@Red


Related posts

Wapang TNI Tinjau Yonif TP 842/Badak Sakti, Dukung Pertahanan dan Ekonomi Daerah

Haru Dan Bahagia, SDN Batu Ampar 07 Pagi Lepas Angkatan Terbaik Menuju Babak Baru Kehidupan

Yenny Wahid Terpilih Jadi Ketum KOWANI, Barikade Gus Dur Bangga dan Beri Dukungan Penuh