Home Headnews Omon-Omon Buruh

Omon-Omon Buruh

Share
Share

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Di sebuah sudut pabrik yang bising, atau di balik meja-meja digital yang tampak mentereng hari ini, ada satu hal yang luput dari ingatan kita: buruh tidak pernah dilahirkan dari ruang hampa. Mereka adalah anak kandung dari sejarah panjang ketegangan kelas yang terus ditulis ulang.

Hantu Kolonial di Lantai Pabri

Jika kita melacak jalinan sejarahnya, masalah perburuhan di Indonesia hari ini kerap kali meminjam struktur masa lalu. Kritik historis mengingatkan kita pada era Koeli Ordonnantie di zaman Hindia Belanda—ketika tubuh-tubuh pekerja diikat oleh hukum kolonial yang menghukum siapa saja yang berani mogok atau menuntut haknya.

Anehnya, meski bendera merah-putih sudah berkibar puluhan tahun, aroma kontrol seketat itu tidak benar-benar lenyap. Formatnya saja yang berganti rupa:

Dulu: Mandor kolonial dengan cambuk di perkebunan tembakau.

Lalu: Stabilitas semu Orde Baru yang menundukkan serikat pekerja di bawah satu komando demi “pertumbuhan ekonomi”.

Sekarang: Fleksibilitas pasar kerja modern yang dibungkus regulasi ramah investasi.

Ilusi Kemitraan Digital

Hari ini, di era gig economy, kata “buruh” sengaja dikubur dalam-dalam. Kata itu dianggap terlampau purba, berbau keringat, dan terlalu kiri. Industri menyulap mereka dengan sebutan mentereng: “Mitra.”

Namun, benarkah mereka mitra? Kritik sejarah membongkar eufemisme ini. Ketika kendali algoritma sepenuhnya dipegang korporasi sementara risiko operasional dibebankan ke pundak pekerja, “kemitraan” hanyalah nama lain dari pelepasan tanggung jawab negara dan modal terhadap jaminan sosial. Ini adalah kelanjutan dari eksploitasi yang sama, hanya saja layarnya kini beresolusi tinggi.

Catatan Akhir: Menolak Lupa, Menolak Tunduk

Melihat perburuhan dari kacamata historis bukan sekadar romantisasi aksi mogok buruh era 1920-an atau mengenang martir seperti Marsinah. Ini adalah upaya menyadari bahwa ketimpangan yang terjadi hari ini—upah murah, PHK massal berdalih efisiensi, hingga minimnya perlindungan pekerja digital—bukanlah kewajaran yang harus diterima begitu saja.

Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menang, namun nasib buruh dibentuk oleh seberapa gigih mereka menolak untuk dilupakan dalam catatan kaki pembangunan. (Adi Bunardi, M.Fil.I)

Penulis adalah Dosen dan Aktivis 98

Share
Related Articles

Perkuat Vokasi Global, KP2MI dan Kemenperin Perluas Kerja Sama Lewat SMK Go Global

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin memperluas kerja...

TPKS Malindo Ke-34 Perkuat Kerja Sama Komunikasi, Elektronika, dan Siber Indonesia–Malaysia

MALAYSIA, KLIK7TV.CO.ID – Askomlek Panglima TNI Marsekal Muda TNI Basuki Rochmat, CRGP....

Purnomo Yusgiantoro Ingatkan IKAL Lemhannas Jaga Soliditas dan Kawal Kebijakan Pemerintah.

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional...

Panglima TNI Hadiri Pelantikan Pejabat Strategis, Perkuat Penyelenggaraan Pemerintahan

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri pelantikan sejumlah...