By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
KLIK7TVKLIK7TVKLIK7TV
Reading: Omon-Omon Buruh
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
KLIK7TVKLIK7TV
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
KLIK7TV > Blog > Headnews > Omon-Omon Buruh
Headnews

Omon-Omon Buruh

admin
Last updated: July 25, 2026 3:23 pm
admin
11 hours ago
Share
SHARE

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Di sebuah sudut pabrik yang bising, atau di balik meja-meja digital yang tampak mentereng hari ini, ada satu hal yang luput dari ingatan kita: buruh tidak pernah dilahirkan dari ruang hampa. Mereka adalah anak kandung dari sejarah panjang ketegangan kelas yang terus ditulis ulang.

Hantu Kolonial di Lantai Pabri

Jika kita melacak jalinan sejarahnya, masalah perburuhan di Indonesia hari ini kerap kali meminjam struktur masa lalu. Kritik historis mengingatkan kita pada era Koeli Ordonnantie di zaman Hindia Belanda—ketika tubuh-tubuh pekerja diikat oleh hukum kolonial yang menghukum siapa saja yang berani mogok atau menuntut haknya.

Anehnya, meski bendera merah-putih sudah berkibar puluhan tahun, aroma kontrol seketat itu tidak benar-benar lenyap. Formatnya saja yang berganti rupa:

Dulu: Mandor kolonial dengan cambuk di perkebunan tembakau.

Lalu: Stabilitas semu Orde Baru yang menundukkan serikat pekerja di bawah satu komando demi “pertumbuhan ekonomi”.

Sekarang: Fleksibilitas pasar kerja modern yang dibungkus regulasi ramah investasi.

Ilusi Kemitraan Digital

Hari ini, di era gig economy, kata “buruh” sengaja dikubur dalam-dalam. Kata itu dianggap terlampau purba, berbau keringat, dan terlalu kiri. Industri menyulap mereka dengan sebutan mentereng: “Mitra.”

Namun, benarkah mereka mitra? Kritik sejarah membongkar eufemisme ini. Ketika kendali algoritma sepenuhnya dipegang korporasi sementara risiko operasional dibebankan ke pundak pekerja, “kemitraan” hanyalah nama lain dari pelepasan tanggung jawab negara dan modal terhadap jaminan sosial. Ini adalah kelanjutan dari eksploitasi yang sama, hanya saja layarnya kini beresolusi tinggi.

Catatan Akhir: Menolak Lupa, Menolak Tunduk

Melihat perburuhan dari kacamata historis bukan sekadar romantisasi aksi mogok buruh era 1920-an atau mengenang martir seperti Marsinah. Ini adalah upaya menyadari bahwa ketimpangan yang terjadi hari ini—upah murah, PHK massal berdalih efisiensi, hingga minimnya perlindungan pekerja digital—bukanlah kewajaran yang harus diterima begitu saja.

Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menang, namun nasib buruh dibentuk oleh seberapa gigih mereka menolak untuk dilupakan dalam catatan kaki pembangunan. (Adi Bunardi, M.Fil.I)

Penulis adalah Dosen dan Aktivis 98

You Might Also Like

Pangkostrad Menerima Kunjungan Kehormatan Panglima Angkatan Darat Belanda (Commander of The Royal Netherlands Army)
Kunjungan Menko Bidang Pangan, PLN Siap Dukung Swasembada Pangan dengan “Irpom” Berbasis Listrik
Jumat Berkah, Yonbekang 1 Kostrad Tebar Kepedulian kepada Masyarakat
Kasad: Berikan Pengabdian Terbaik Kita untuk Bangsa!
Panglima TNI Pimpin Serah Terima Jabatan Strategis TNI
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Wamen Christina : Penerbitan Visa Pekerja Migran Indonesia ke Turki Membaik, Segera Tuntaskan MoU
Next Article Hari Anak Nasional 2026, Santika Indonesia Hotels & Resorts Gelar GM For A Day 2026
about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Find Us on Socials

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?