Home / Budaya / Sendratari Bali di Galery Indonesia Kaya, Tokoh Kala Baka Menjadi Jenaka

Sendratari Bali di Galery Indonesia Kaya, Tokoh Kala Baka Menjadi Jenaka

JAKARTA. Klik7TV.co.id – Pergelaran seni drama dan tari (sendratari) Bali dengan cerita Sang Waktu telah berlangsung memuaskan penikmat seni di Galery Indonesia Kaya lantai 8 Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat Kamis (11/7/2017) malam lalu.


Dari pergelaran produksi I Gusti Agung Jelantik dengan koreografer Putu Deasy Ariastuti itu yang paling menarik adalah pemeran Kala Baka, raksasa ajudan Kala Rau, tokoh utama cerita ini.

Sebab dalam keseriusan adegan, Kala Baka sempat bergaya jenaka menyebut rajanya sebagai Baper Nan Tak Terbendung atau Bandung. (Baper= terbawa perasaan.)


Nama nama kota lain muncul dari mulut Kala Baka melukiskan keadaan Kala Rau.

“Dia itu Purbalingga. Pura -pura bahagia padahal enggak,” kata Pandu, seorang karyawan muda perusahaan perminyakan yang memerankan Kala Baka.

Pengamat budaya dan pariwisata Jakarta, Abu Galih yang menonton sendrarari tersebut mengakui kelenturan akting dan improvisasi Pandu sebagai ang menarik. “Itu ciri generasi milenium dalam bersastra. Bikin akronim akronim dengan berbagai makna.


Sutradara I Gede Adiputra mengakui itu merupakan kreasi pemainnya sendiri. “Tentu kami juga telah memberikan pengarahan?” ujarnya.

Abu Galih juga melihat dalam gerakan pinggul tari Bali pada penari putri terdapat gerakan mirip tari Betawi Lenggang Nyai.

Secara umum pertunjukan kesenian gratis di tempat yang bergengsi tersebut telah memuaskan 137 orang penontonnya. Dari remaja sampai lansia, dari yang awam sampai seniman dan budayawan. Tampak di antaranya Ibu AA Ayu Bulan Trisna Jelantik yang berasal dari Puri Karangasem yang sudah menetap di Jakarta.


I Gede Ariputra sutradara dari Sanggar Nilotama menuturkan Gde Samba budayawan asal Bali yang sudah sejak 1960-an mukim di Bandung juga hadir.

Pergelaran tersebut dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya disusul adegan di pelataran dua gadis cilik sedang bermain di bawah terang bulan.

Ceritanya soal gerhana bulan yang mirip legenda Jawa. Dalam versi Bali seorang raksasa Kala Rau yang merindukan cinta Dewi Ratih namun ditolak. Kala Rau marah dan menelan Dewi Ratih.

Maka jagad menjadi gelap. Namun setelah dipanah Dewa Wisnu baru terlepaslah Dewi Ratih dari mulut Kala Rau. Maka bumi yang kala itu gelap menjadi terang kembali dengan bulan purnama yang diibaratkan Dewi Ratih.

Tetapi secara berkala dalam putaran waktu yang lama, kepala raksasa Kala Rau di angkasa kembali menghadang dan menelan bulan purnama penjelmaan Dewi Ratih. Dari suasana terang bulan, dua anak gadis bermain sampai gelap dan iringan bunyi bunyian kentongan diekspresikan dengan tari dan dialog singkat diiringi musik gamelan, gitar dan keyboard.

Pergelaran tersebut didukung 25 orang penari dan 10 orang penabuh ditambah 3 orang pengiring vokal.

“Penarinya rata rata remaja siswa SMP dan SMA usia 17 tahun.Pemeran Dewi Ratih Ni Luh Ayu Paramita Putri, siswi SMA Negeri 1 Cileunyi bandung Kelas 2. Sedang pemeran Kala Baka alumnus Fakultas Teknik Geologi ITB di Bandung. Namanya Pandu. (@.Prihardjo)