Home / Pendidikan / Ancaman Seorang Pemuda Akan Memenggal Kepala Presiden Jokowi, Bukanlah Hal Yang Sederhana

Ancaman Seorang Pemuda Akan Memenggal Kepala Presiden Jokowi, Bukanlah Hal Yang Sederhana

MEDAN, KLIK7TV.CO.ID – Akademisi USU Roy Fachraby Ginting SH M.Kn menyatakan keprihatinannya dengan adanya ancaman dari seorang pemuda yang akan memenggal kepala Presiden Jokowi, bukanlah hal yang sederhana, apalagi jika dilihat dari perspektif pendidikan.

Bagaimana bisa seorang pemuda yang tentunya pernah mengenyam pendidikan, dengan enaknya mengancam membunuh Kepala Negara di ranah publik, dan disaat bulan Ramadhan. Hal ini menggambarkan betapa kronisnya sistem pendidikan kita dan sangat penting untuk melakukan perbaikan yang menyeluruh, kata Roy Fachraby Ginting di kampus USU Medan, Selasa (14/5).

Dikatakannya, Presiden Jokowi harus segera melakukan pembenahan dan memperbaiki sistem pendidikan kita agar kelak bangsa ini tidak menghasilkan generasi muda yang bengis, biadab, tidak tahu tatakrama, tidak bisa menghormati simbol negara, mengancam keamanan negara dan tidak bisa menghormati agama.

 

Roy mengharapkan segenap praktisi pendidikan hendaknya mendukung upaya dan program Presiden Jokowi ke depan guna fokus untuk membenahi SDM Indonesia utamanya lewat jalur pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, atas dan tinggi.

Kita harapkan momentum itu dimulai 10 November 2019 pada saat hari Pahlawan, agar cita- cita para pahlawan bangsa mengembalikan Indonesia kepada cita-cita Proklamasi 1945 dapat bergelora kembali, katanya.

Menurut Roy yang staf pengajar dan dosen mata kuliah PPKN USU ini, menjadikan Pancasila asas tunggal sebagai dasar berbangsa bernegara, sebagai ideologi tidak tergantikan dan sistem filsafat dan etika dan menjadi pandangan hidup kita semua dalam berbangsa dan bernegara, katanya.

Roy melihat bahwa pembenahan sistem pendidikan di Indonesia bisa dimulai dari hal-hal sebagai berikut, sederhanakan kurikulum nasional sesuai usianya, dan muatannya harus bersifat mendasar, humanis, dan kultural. Ajarkan kembali pelajaran Pancasila, sejarah, budi pekerti, agama dalam cakupan rasional dan kontekstual, kesenian dan kebudayaan, khususnya bagi murid SD, SMP dan SMA. Bebaskan sekolah dan kampus dari ancaman dogma-dogma radikalisme agama. Bebaskan sekolah dan kampus dari perilaku deskriminatif dari segala bentuk parameter SARA. Perbaiki mekanisme dan sistem evaluasi pendidikan nasional secara berkala dan rutin.

Negara harus hadir dalam menjamin kualitas pendidikan nasional dan sekolah harus imun dari segala bentuk penyusupan faham-faham ideologi sesat yang dilakukan oleh guru-guru dan alumni yang ujung-ujungnya menggoyahkan Pancasila, keutuhan NKRI dan merusak Kebhinneka Indonesia, kata Roy Fachraby.

Roy melihat bahwa radikalisme di sekolah dan kampus bukanlah isapan jempol, namun fakta yang menghadang perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

“Pendidikan nasional dalam ancaman serius dan harus dibenahi menyeluruh,” katanya. @ DM

Check Also

Self-Inflating Tissue Expander untuk Chron’s Disease

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID  – Sasza Chyntara Nabilla, seorang mahasiswi program Doktor dari Departement of Materials, Universitas …