oleh

Jakarta sedang Dipimpin Zombie Apa Ya? Kata Masinton Pasaribu

JAKARTA, KLIK7TV.CO.ID – Anggota DPR RI Masinton Pasaribu mengungkapkan kegelisahan kositutennya, terkait rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar ( PSBB) Ketat, mulai Senin depan(14/9/2020).

Anggota DPR RI dari Daerah Pemilhan ll DKI Jakarta itu mengatakan, banyak asapirasi dari warga ibu kota yang mempertanyakan, keberatan sekaligus kecewa dengan rencana Anies tersebut.

“Keputusan Gubernur DKI Jakarta memberlakukan kembali PSBB di Jakarta untuk fase yang keempat kali, ini sangat meresahkan wrarga Jakarta, khususnya masyarakat kecil yang selama ini hidup dari sektor informal dan berpenghasilan pas- Pasan , serta anak- anak muda produktif dan kreatif ,” ucap Masinton pada Klik7tv.co.id, Jumat ( 11/9/2020)..

Pemerintah provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan tiga kebijakan sejak 10 April 2020 sampai 23 April 2020. Selanjutnya pemberlakuan PSBB diperpanjang selama 28 hari 23 April sampai 22 Mei 2020

Adapun fase ketiga dimulai dari 22Mei Samapi 4 Juni 2020 selanjutnya, Pemprov DKI mulai 5 Juni 2020 memberlakukan PSBB Transisi.

Pemprov DKI lantas berencana mencabut PSBB Transisi. Selanjutnya, PSBB Ketat akan berlaku mulai pekan depan guna menekan pertambahan kasus Covid-19.

“Namun Provinsi DKI Jakarta masih menduduki posisi pertama dalam jumlah penambahan kasus positif yang paling banyak secara nasional ,” lanjut Masinton.

Legislator PDI Perjuangan itu menilai kebijakan Anies selama ini dalam penunggulangan pandemi Covid-19 tidak tepat. menurut warga khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) yang mulai berbenah saat masa transisi bakal kembali terpuruk oleh PSBB ketat.

“Sekarang pelakau UMKM ini merasa terhempas kembali dengan keputusan Gubernur DKI Jakarta yang memberlakukan kembali PSBB) fase keempat ini ,” tegasnya.

Gubernur Anies lanjut Masinton, semestinya meniru provinsi Jawa Barat yang mampu menekan jumlah kasus baru Covid-19 sejak Juni 2020 dengan menerapkan pembatasan sosial bersekal mikro ( PSBM) dengan memberdayakan seluruh aparatur pemerintahan dan hingga tingka desa.

Dengan pola itu, Jabar juga melibatkan ibu- ibu PKK yang mendirikan dapur umum guna menyuplai makanan ke rumah- rumah waraga di desa yang memberlakukan PSBM. Oleh karena itu Masinton menegaskan, PSBM lebih tepat ketimbang PSBB.

“Penerapan PSBB kembali secara sepihak oleh Gubernur DKI akan menghilangkan roh kota metropolitan Jakarta menjadi kota zombi, kota metropolitan tanpa roh metropolis. Atau mungkin Jakarta sedang dipimpin zombie yang kerja dengan kata tanpa aksi nyata alias NATO( no action talk only),” sebutnya .@Why